Cewe SMA Dalam Hati, "Duh, Jadi Mesra Berlebihan Gini, Kan!?"
Namanya si Rani. Anak SMA kelas XI IPA 2. Biasa aja sih, bukan yang populer, bukan juga yang cupu. Tapi Rani punya satu rahasia: dia naksir cowok kelas sebelah. Namanya Bima. Tinggi, putih, rambut agak berantakan, tapi entah kenapa justru itu yang bikin dia melting tiap liat dia lewat lorong kelas. Ck ... ck ... ck...
Si Rani tau dia nggak sendiri. Separuh cewek di sekolah juga suka Si Bima. Tapi Rani rada beda dikit. Dia... diam-diam suka dari jauh. Cuma bisa liat dia pas istirahat, atau kadang pura-pura ke kantin biar bisa ngelewatin kelasnya. Classic. Haha!
Suatu hari, Rani dapet tugas kelompok bareng temennya Bima, si Dito. Tugas buat video pakai Bahasa Inggris, untuk memperkenalkan budaya lokal ke luar negeri. Dan mereka harus ngerjain di rumah Dito. Tapi karena Dito nggak bisa, akhirnya dia nyuruh Rani ke rumah Bima. Rani syok, "Seriusan? Gue bakal ke rumah Bima???", ucap dalam hatinya.
Rani dateng dengan niat cuma mau nugas. Tapi jantung dia udah kayak mau lari maraton dari pagi. Yang agak anehnya, Si Rani ke rumah Bima lupa janjian alias main datang aja langsung. Lol!
Pas Rani sampe, bapaknya Bima yang bukain pintu, dong. Kaos oblong, celana pendek, senyum santai.
“Halo, ada apa, Dik?“, tanya Bapaknya.
“Halo, Om. Saya mau nugas bareng Bima. Bimanya, ada?“, balas Rani.
“Ada. Hayuk masuk.“
Setelah masuk ke rumah Bima, Rani pun disuguhkan minum. Rani menunggu hingga 20 menit. Namun, Bima tidak kunjung datang menyapanya. Bahkan, minuman yang diberikan bapaknya Bima pun sudah tinggal seteguk lagi.
“Lho, Bima belum keluar?“, ujar Bapaknya Bima.
“Iya, Om.“, jawab Rani.
“Panggil aja sana. Dia di kamar paling. Om mau keluar dulu.“, balas Bapaknya Bima.
Setelah sekian lama menunggu Rani tersadar, ia hanya berdua di rumah yang sama dengan Bima. Mengingat ibunda Bima telah meninggal saat Bima masih kecil. Karena terlalu banyak minum dan jadi kebelet pipis, tak pakai lama Rani pun berjalan ke arah kamar Bima sambil memanggilnya.
“Bima ... Bim ... Haloooo ...“, panggil Rani.
Tiga kali memanggil dan tak ada jawaban, Rani bergegas sebentar ingin pipis. Saat dibukanya pintu kamar mandi yang tak terkunci itu ternyata Bima ada di dalamnya sedang mandi. Rani menelan ludahnya dua kali, sambil memandang tubuh Bima yang sesuai dengan seleranya. Ia pun menurunkan kepalanya dan melihat t̲i̲t̲i̲t̲ k͛e͛m͛a͛l͛u͛a͛n͛ Bima.
“Aaaaaaaaaaaaaa ....“, teriak keduanya.
“Rani!!?“, ucap Bima.
“Bima?!“, balas Rani.
Keduanya kaget! Rani pun dengan malu langsung bergegas kembali ke ruang tamu. Namun, kaki dan otaknya tidak sejalan. Ia pun terjatuh. Dengan sigap, hanya dalam dua detik. Bima menangkap Rani. Bima lupa kalau ia t̲e̲l̲a̲n̲j̲a̲n̲g̲! Dan Rani tidak sengaja memegang t̲i̲t̲i̲t̲nya! Wow!
“Ahhhh ... Ran ...“, kata Bima.
“Eh!? Bim!?“, balas Rani sambil kemudian menelan ludahnya.
T̲i̲t̲i̲t̲ Bima jadi bangun!!!! Saat Rani beranjak bangun, Bima bantu memegang pundak Rani yang kemudian bergeser menjadi memegang kedua pipi Rani.
“Ran ... Enak ...“, ucap Bima.
Dan Bima pun mencium bibir Rani. Dengan t̲e̲l̲a̲n̲j̲a̲n̲g̲jang. Dengan t̲i̲t̲i̲t̲ yang keras dan membesar. Cukup mereka bercumbu. Bima malah menarik tangan Rani agar mau memegang k̲e̲m̲a̲l̲u̲a̲n̲n̲y̲a̲.
“Aduh, Bim. Apa ga kelewatan ini?“, tanya Rani.
“Ah! Enak, Ran. Lanjut, yuk!“, saut Bima.
Bima pun menggendong Rani ke kamarnya. Bima kemudian menaruh Rani di kasurnya. Membuka bajunya. Memeras p̲a̲y̲u̲d̲a̲r̲a̲nya. Menjilat m̲e̲m̲e̲k̲nya. Sampai melakukan adegan dewasa!
20 menit berlalu, Bima memeluk Rani dengan erat di kasurnya. Entah apa yang dipikirkan Bima, ia langsung menembak Rani!
“Ran, terima kasih, ya! Enak banget. Aku jadi sayang sama kamu. Mau ga kamu jadi pacar aku?“, tanya Bima.
Rani tersenyum sangat lebar. Tanpa berpikir panjang, ia menganggukkan kepalanya sebagai tanda begitu ia menginginkan Bima.
Baca artikel lainnya:
.jpg)
Comments
Post a Comment