Waktu Nggak Pernah Lupa

workbench.top - jimmy zara


Langit sore udah mulai oranye. Anak-anak sekolah SMA Harapan udah rame keluar gerbang, ada yang ketawa-tawa, ada yang buru-buru ngejar ojek online. Tapi Jimmy cuma berdiri diem di depan taman belakang sekolah. Tangannya megang HP, matanya baca pesan terakhir dari Zara:


"Aku nunggu di taman belakang ya."

Deg.

Jimmy ngerasa detak jantungnya tiba-tiba naik kayak abis lari naik tangga. Padahal cuma baca pesan satu baris. Tapi emang bukan pesan biasa. Soalnya itu dari Zara.

Zara itu… ya, bukan orang asing buat Jimmy. Mereka pertama kali kenal pas mereka lebih muda, pas jadi anak SMP. Satu angkatan. Nggak deket-deket amat sih, tapi cukup sering saling lirik, saling senyum, saling cari alasan buat ngobrol walau ujung-ujungnya nggak pernah ngomongin apa-apa. Suka-sukaan? Iya. Tapi diem-diem. Sama-sama penakut. Nggak ada yang berani ngungkapin duluan.

Terus lulus.

Masing-masing masuk SMA yang beda. Jimmy pikir, ya udah, selesai. Tapi ternyata hidup doyan banget ngasih plot twist.


Semester dua, kelas 10, Jimmy pindah sekolah karena bokapnya pindah kerja ke luar kota. Dan sekolah barunya? SMA Harapan. Hari pertama, dia masuk perpustakaan buat ngadem. Dan di sana, duduk sendirian sambil baca novel, ada sosok yang udah lama dia pikir nggak bakal ketemu lagi.

Zara.

Masih sama kayak dulu. Rambut pendek, tatapan kalem, ekspresi susah ditebak. Tapi Jimmy tahu, itu dia, Zara. Butuh waktu sebentar buat Jimmy nyapa duluan.

"Zara?"

Zara noleh, matanya sempet kosong sebentar, terus langsung senyum.

"Jimmy?"

Mulai dari situ, mereka sering ketemu lagi. Nggak langsung akrab, tapi pelan-pelan jadi deket. Ngobrol, ketawa, kadang saling ejek. Jimmy ngerasa kayak dikasih kesempatan kedua. Dan kali ini dia nggak mau nyia-nyiain.

Dia udah punya rencana. Mau nembak Zara. Serius. Tapi ternyata semesta punya rencana lain.

Taman belakang sore itu sepi. Angin pelan. Langit makin gelap, tapi masih ada warna emas sisa matahari. Jimmy ngelangkah pelan, nyari sosok yang dia tahu pasti udah nunggu. Dan bener aja, Zara lagi duduk di bangku kayu, nunduk, kayak mikir keras.

"Zara," panggil Jimmy.

Zara noleh, terus berdiri. Tangan kirinya megang kotak kecil dibungkus kertas warna biru dongker.

"Kamu dateng juga," katanya pelan, agak gugup.

"Iya. Kamu yang ngajak," jawab Jimmy sambil senyum kecil.

Zara diem sebentar, terus nyodorin kotak itu.

"Buat kamu. Tapi bukanya nanti aja. Aku mau ngomong dulu."

Jimmy nerima kotaknya. Beratnya ringan. Tapi suasana jadi berat. Bukan karena nggak enak, tapi karena deg-degan.

"Aku nggak mau kayak dulu lagi, Ka," kata Zara. "Dulu pas SMP aku suka kamu. Tapi aku diem. Nggak pernah ngomong. Aku takut banget. Dan sekarang, setelah kita ketemu lagi… aku masih suka kamu. Bahkan mungkin lebih."

Jimmy diem. Matanya nggak bisa lepas dari Zara. Otaknya muter, tapi hatinya udah nyambung dari tadi.

"Aku pengen kita jadian," lanjut Zara. "Kalau kamu mau."

Napas Jimmy ketahan sebentar. Dunia kayak nge-pause. Suara anak basket dari lapangan belakang masih kedengeran, tapi kayak jauh banget. Jimmy maju satu langkah, matanya ngeliat ke mata Zara.

"Gue juga suka lo, Zar. Dari dulu. Dan gue juga pengen jadi pacar lo."

Zara senyum. Senyum yang ngelepas semua gugup dari mukanya. Lalu Jimmy mendekat, pelan. Mereka saling liat. Dan tiba-tiba, bibir mereka ketemu.

Ciuman singkat. Hangat. Nggak ada suara, nggak ada orang lain. Cuma mereka berdua dan sisa cahaya senja yang jadi saksi.


Malamnya, Jimmy baru buka kotak dari Zara. Isinya sederhana: foto kelas 7 mereka, satu lembar aja. Tapi di balik foto itu, ada tulisan tangan kecil:

"Dulu aku simpan ini karena kamu ada di situ. Sekarang aku kasih karena kamu masih di sini."

Jimmy senyum. Nggak lebar, tapi dalem.

Waktu emang nggak pernah lupa. Kadang cuma nungguin kita buat berani.

Setelah momen mesra itu, Zara ajak Jimmy. Bilang untuk main ke rumahnya. Jimmy langsung mau, dong. Sambil pegang kedua pipi Zara yang manis itu.


Pas hari Sabtu. Jimmy chat Zara, bilang dia udah di depan rumahnya. Lucunya, Zara lupa kalau Jimmy udah dia ajak main ke rumahnya. Zara pun memanggil Jimmy masuk dan disuruhnya menunggu di ruang tamu. Sambil ga berhenti Zara minta maaf ke Jimmy karena dia lupa pake banget.

"Astaga. Ga salah ini yang gue liat? Zara pake sempak doang sama tanktop, tuh?", ujar Jimmy dalam hati.

Iya. Zara pake tanktop warna pink dengan celana super pendek yang menampilkan seisi lekuk badannya.


Baca selengkapnya di sini: https://workbench.top/id/videos/4.

Comments

Popular posts from this blog

Jatuh, Musik dan Lo. Romansa Anak ABG SMA.

Cewe SMA Dalam Hati, "Duh, Jadi Mesra Berlebihan Gini, Kan!?"